Atap asbes masih digunakan di Indonesia sejak kemunculannya puluhan tahun lalu. Bahkan melansir dari laman Kemenkes BKPK, Indonesia menjadi importir terbesar di Asia tenggara dengan volume sekitar 150.000 ton per tahun. Padahal lebih 60 negara melarang penggunaan asbes sepenuhnya, karena dapat membahayakan kesehatan manusia.
Berdasarkan PP No. 74 Tahun 2001 dan Permenaker No. 3 Tahun 1985, asbes biru (crocidolite) sudah dilarang. Namun asbes putih (chrysotile) yang paling umum digunaka masih diperbolehkan. Padahal berdasarkan WHO (2024), jenis ini pun sama-sama mematikan.
Kenapa Atap Asbes Bahaya?
Menurut dr. dr. Oktiningsih, Sp.P, Konsultan Penyakit Paru dan Respirasi di RS Adi Husada, asbes itu terdiri dari kumpulan partikel yang sangat kecil, tipis, tidak berbau, dan bersifat tajam. Ketika asbes rusak, retak, atau pun pecah, partikel-partikel tersebut terlapas ke udara dan berisiko terhirup.
Berbeda dengan debu yang masih bisa dikeluarkan melalui batuk. Ketika partikel asbes masuk ke dalam paru-paru, maka akan menetap di dalam tubuh selamanya. Kondisi ini kemudian memicu luka pada jaringan paru yang memicu peradangan kronis.
Bahkan dalam jangka panjang, proses peradangan tersebut dapat merusak jaringan di sekitarnya hingga menyebabkan kerusakan kromosom atau DNA sel. Kerusakan ini berpotensi memicu mutasi sel yang dapat berkembang menjadi kanker.
Penyakit yang sering dikaitkan dengan paparan asbes adalah mesothelioma, yaitu kanker langka pada selaput paru. Selain itu, material ini juga menyebabkan asbestosis (jaringan paru menjadi keras). Bahkan, paparan asbes juga bisa menyerang saluran pernapasan hingga ovarium maupun urogenital.
Penyakit ini sulit dideteksi dini, mengingat gejalanya bisa muncul 20 hingga 40 tahun pasca terpapar. Lebih dari itu, dr. Oktiningsih menyebut bahwa penyakit akibat asbes hampir tidak bisa disembuhkan. Penanganan medis umumnya hanya berfokus pada pengelolaan gejala yang muncul.
Cara Mengurangi Risiko Paparan Asbes

Ilustrasi Atap Asbes Rusak
Jika suatu bangunan masih menggunakan material berbahan asbes, ada beberapa langkah yang disarankan untuk meminimalkan risiko. Pertama, penting untuk mengidentifikasi bagian bangunan yang mengandung asbes. Setelah diketahui, material tersebut sebaiknya tidak dirusak karena kerusakan dapat memicu pelepasan partikel berbahaya.
Selain itu, menjaga sirkulasi udara yang baik juga dapat membantu mengurangi konsentrasi partikel di dalam ruangan. Bagi pekerja yang berisiko terpapar asbes, penggunaan alat pelindung diri (misalnya seperti masker) serta menjaga kebersihan diri setelah bekerja menjadi langkah pencegahan penting. Pemeriksaan kesehatan secara rutin juga disarankan untuk mendeteksi gangguan pernapasan sejak dini.
Baca juga: Butuh Berapa Lembar Baja Ringan untuk Rumah Tipe 36?
Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati
Seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan, kini tersedia berbagai alternatif material atap yang lebih aman. Salah satnya adalah Atap Gelombang Bulat dari KENCANA.
Produk ini hadir bentuk gelombang bulat yang familiar dan tetap mempertahankan tampilan klasik yang banyak digunakan pada berbagai jenis bangunan. Meskipun tampilannya menyerupai atap asbes, produk ini diproduksi tanpa kandungan asbes sehingga lebih aman bagi kesehatan penghuni bangunan.

Aplikasi Atap Gelombang Bulat KENCANA
Atap Gelombang Bulat KENCANA diproduksi menggunakan material Baja Lapis Aluminium Seng (BjLAS) yang telah memenuhi standar SNI. Material ini dikenal memiliki ketahanan yang baik terhadap korosi, perubahan cuaca, serta memiliki kekuatan struktural yang andal.
Penggunaan material berkualitas tersebut tidak hanya meningkatkan keamanan, tetapi juga memberikan umur pemakaian yang lebih panjang. Selain itu, stabilitas bentuk atap tetap terjaga, sehingga tetap kuat dan tidak mudah rapuh seperti material konvensional berbahan asbes.

Atap Gelombang Bulat KENCANA
Bahkan tak hanya mengutamakan aspek keamanan dan kualitas. Atap Gelombang Bulat KENCANA juga dirancang untuk tetap menghadirkan nilai estetika. Desain gelombang bulat memberikan tampilan yang rapi, klasik, dan cocok digunakan pada berbagai konsep bangunan, mulai dari hunian, gudang, hingga bangunan komersial.
Dengan teknologi material modern, masyarakat kini tidak perlu lagi memilih antara keamanan dan tampilan. Atap dapat tetap terlihat menarik sekaligus memberikan perlindungan kesehatan yang lebih baik.***