Membangun dengan Integritas di Tengah Ramainya Pasar Baja Ringan di Indonesia

Sejak tahun 2000-an awal, baja ringan mulai dikenal luas di Indonesia sebagai solusi bangunan yang praktis dan efisien. Sampai sekarang, material ini menjadi pilihan utama dalam berbagai proyek konstruksi, mulai dari rumah tinggal hingga gedung komersial.

Namun, di balik popularitasnya, muncul satu tantangan yang pantang diabaikan, yaitu kualitas baja ringan yang beredar di pasaran.

Klaim Tebal Vs Fakta di Lapangan

Menurut Susanto, Direktur KENCANA, di lapangan, tidak sedikit baja ringan yang mencantumkan label ketebalan tertentu, seperti 0,75 mm. Tetapi pada praktiknya tidak sepenuhnya sesuai dengan spesifikasi tersebut. Bahkan, kondisi ini terjadi cukup masif di industri konstruksi Indonesia.

“Label yang tertulis itu apakah benar sesuai. Baja ringan itu ada identitas tebalnya 0,75 (mm) tapi yang terjadi di Indonesia itu hampir 95% perusahaan itu tidak ada yang murni 0,75 (mm),” ujar Susanto.

Susanto, Direktur PT Kencana Maju Bersama

Susanto, Direktur PT Kencana Maju Bersama

Bagi pengguna awam, perbedaan ini sulit dikenali. Padahal, ketebalan material sangat berpengaruh terhadap kekuatan, keamanan, dan umur pakai baja ringan pada suatu konstruksi.

Situasi ini menunjukkan bahwa memilih baja ringan bukan hanya soal harga atau ketersediaan produk, melainkan juga soal kejujuran produsen dalam menjaga standar kualitas. Di sinilah peran integritas menjadi sangat penting.

Baca juga: Atap Rumah Tipe 45 Butuh Baja Ringan Berapa Batang?

Lebih dari Produk, Integritas Jadi Kunci

Selain kualitas material, tantangan lain yang kerap ditemui adalah cara pemasangan baja ringan. Banyak tukang di lapangan yang belum mendapatkan pelatihan memadai tentang teknik pemasangan yang benar.

Padahal, baja ringan memiliki karakteristik berbeda dibanding material konvensional seperti kayu. Bahkan kesalahan kecil dalam pemasangan pun dapat berdampak besar pada kekuatan struktur secara keseluruhan.

Pelatihan Baja Ringan oleh KENCANA

Pelatihan Baja Ringan oleh KENCANA

Menyadari hal tersebut, KENCANA tidak hanya berfokus pada penyediaan produk. Tetapi juga pada edukasi sumber daya manusia. Melalui program pelatihan gratis, KENCANA secara aktif melatih para tukang dan aplikator, termasuk mereka yang sebelumnya belum memahami sistem baja ringan, agar mampu memasang rangka atap sesuai standar teknis dan keselamatan.

“(KENCANA) Melatih semua tukang, orang yang nggak ngerti cara masang baja ringan. Kita latih gratis,” ungkap Susanto.

Bagi KENCANA, yang ditawarkan bukan sekadar produk baja ringan, melainkan kepercayaan. Apalagi dengan mudahnya menemukan material di pasaran, nilai yang dijaga adalah konsistensi terhadap mutu dan tanggung jawab jangka panjang.

“Jadi yang dijual perusahaan itu adalah integritasnya bukan barangnya. Barang sekarang gampang dicari kok,” tegasnya.

Ketika Standar Bukan Sekadar Janji

Dari sisi produk, baja ringan KENCANA diproduksi menggunakan material yang sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Bahkan, khusus untuk profil rangka baja ringan seperti profil C (Kanal C) dan Top Hat (reng), KENCANA telah memenuhi SNI 8399:2017.

SNI Profil Rangka Atap Baja Ringan KENCANA

SNI Profil Rangka Atap Baja Ringan KENCANA

SNI ini merupakan standar penting yang mengatur standar profil rangka baja ringan, meliputi spesifikasi mutu, bahan baku, dimensi, ketebalan, tegangan leleh (yield strength) dan kekuatan tarik (tensile strength) minimal 550 MPa, serta syarat penandaan wajib pada produk agar konsumen yakin akan kualitas. Selain itu, diatur pula ketahanan karat (minimal lapisan AZ 100), serta keamanannya untuk konstruksi atap, dinding, dan lantai, yang sesuai Badan Standardisasi Nasional (BSN).

Standar ini menjadi fondasi dalam memastikan rangka atap kuat, aman dan tahan lama. Adanya spesifikasi yang jelas dan terukur ini, pengguna dapat merasa lebih tenang karena struktur bangunan dirancang untuk menghadapi berbagai kondisi cuaca di Indonesia.

Karena pada akhirnya, membangun bukan hanya tentang memilih material yang kuat, tetapi juga tentang memilih mitra yang menjunjung integritas. Karena barang bisa dengan mudah dicari. Namun kejujuran, edukasi, dan komitmen terhadap standar adalah nilai yang tidak semua perusahaan miliki.***