skip to Main Content
Jl. Bubutan 127 - 135 Surabaya +62811 3115 8000 info@kencanaindonesia.co.id
Perbedaan Besi dan Baja

Apa Perbedaan Besi dan Baja, Ternyata Sifatnya Tidak Sama!

Besi dan baja adalah dua material yang sering digunakan dalam industri manufaktur. Keduanya dapat dimanfaatkan untuk membuat berbagai produk maupun komponen.

Walau terlihat serupa, namun ada perbedaan besi dan baja  baik karakteristik hingga kualitas. Nah, agar lebih mengenal sekaligus membedakan besi dan baja, berikut pengertian keduanya.

Apa Itu Besi?

Dikutip dari laman thyssenkrupp, besi adalah unsur paling melimpah keempat yang membentuk inti dalam dan luar bumi. Logam paling murni di planet ini pun umumnya digunakan untuk pembuatan logam lain.

Ilustrasi Besi Tempa
Ilustrasi Besi Tempa

Soal sifat fisik, besi murni berwarna putih keperakan mudah dikerjakan dan bisa dipotong menggunakan pisau. Besi murni juga bisa dipalu menjadi lembaran atau ditarik menjadi kabel. Bahkan, besi masih menghantarkan panas dan listrik serta bisa dimagnetisasi.

Sementara secara sifat kimia, besi murni mudah bergabung dengan oksigen di udara. Meski dikombinasikan dengan elemen paduan sebagaimana yang digunakan dalam konstruksi pun besi masih bereaksi dengan udara lembab, membentuk oksida coklat kemerahan (karat). Logam ini juga bereaksi dengan karbon, belerang, serta silikon.

Mengingat sangat lunak dan reaktif, besi murni tidak bisa langsung digunakan. Bahan yang sering kita sebut ‘besi’ sebenarnya adalah paduan besi yang dicampur elemen lain, terutama karbon untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanannya. Terkait hal ini, ada beberapa jenis besi yang umum digunakan, seperti:

  • Pig iron (besi kasar) adalah besi mentah dasar yang dicetak menjadi balok-balok yang dikenal sebagai pigs.
  • Besi tuang merupakan material yang mengandung karbon sangat tinggi. Besi ini telah dicairkan, kemudian dituangkan ke dalam cetakan, lalu dibiarkan dingin hingga mengeras. Produk akhirnya sering kali berupa bentuk struktural.
  • Besi tempa memiliki kandungan karbon lebih rendah dan sering dibuat dari paduan besi dengan terak (sisa limbah). Jenis ini lebih lembut dari besi cor, memungkinkan untuk diubah bentuknya dengan memanaskannya.

Apa Itu Baja?

Ilustrasi Lembaran Baja
Ilustrasi Lembaran Baja

Baja merupakan jenis paduan besi yang kandungan karbonnya lebih rendah daripada besi cor dan tempa. Seperti besi, ada beberapa jenis baja, walau semuanya mengandung besi, yaitu:

  • Besi karbon, merupakan jenis baja dasar yang kandungan karbonnya sekitar 1%. Material ini pun paling umum dengan membentuk 80% dari sebagai besar baja yang diproduksi setiap hari.
  • Baja paduan mengandung besi, karbon, dan satu atau lebih elemen paduan tambahan seperti nikel, silikon, kromium, tembaga, maupun vanadium. Sifat-sifat baja paduan tergantung pada jenis elemen paduan yang digunakan.

***

Perbedaan Besi dan Baja

Pada dasarnya, walau logam-logam itu mengandung senyawa dasar yang sama, setelah produksi, keduanya berubah menjadi material yang unik. Besi dan baja pun akhirnya memiliki beragam perbedaan, yaitu:

Baca juga: Pentingnya Penghitungan Struktur Bangunan Baja Ringan Menggunakan Software

Ketahanan

Baik besi maupun baja cukup tahan lama. Namun, besi cenderung bereaksi dengan oksigen dan kelembaban, sehingga membuatnya rentan terhadap korosi. Sementara ketahanan baja lebih baik. Pasalnya baja bisa menahan beban besar, tahan cuaca, hingga anti jamur atau lumut.

Korosi

Korosi disebabkan oleh oksidasi kimia. Dalam hal ini, besi rentan terhadap oksidasi. Sementara baja adalah paduan yang tidak berpori, berarti secara alami tahan terhadap korosi. Walau air bisa memengaruhi proses oksidasi pada baja, namun risiko itu bisa dikurangi dengan penambahan cat pelindung.

Keuletan

Baja mudah dibentuk dan ditekuk tanpa mengurangi fungsinya. Sementara keuletan besi akan didapat saat dipadukan dengan karbon atau unsur lain.

Keberlanjutan

Kedua logam ini berkelanjutan. Namun baja disebut bisa didaur ulang berkali-kali tanpa kehilangan daya tahan atau kekuatannya. Sementara besi walau bisa didaur ulang juga, namun prosesnya membutuhkan energi yang intensif, sehingga membuatnya kurang berkelanjutan lantaran jejak adanya jejak karbon.

This Post Has 0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
error: Content is protected !!